Kamis, 18 Juli 2013

Di Batas Pertempuran


Oleh: Faaiz Algar

Aku terduduk sendiri dalam suatu ruangan. Ruangan tersebut berdindingkan beton dan beratapkan beton tanpa cat. Sebuah lampu bohlam sederhana tergantung pada sebuah kabel agak besar dilangit-langit. Dihadapanku berdiri sebuah pintu besi dan tak jauh darinya terdapat meja kayu dilengkapi dengan kursi kayu. Diatas meja tersebut terserak kertas-kertas lusuh yang tersinari lampu meja. Aku duduk diatas sebuah dipan besi yang dilapisi kasur tipis berseprai kusam. Tidak ada sesuatu yang bisa dikatakan nyaman disana. Sementara suara-suara ramai terdengar agak samar meresap dari beton-beton yang melingkupi ruangan tersebut.
Tiba-tiba pintu besi didepanku terbuka. Seorang serdadu bersenjatakan Steyr AUG1 berdiri disana. Dadanya terlindungi rompi anti peluru dengan helm Kevlar menutupi kepalanya. “Kumpulkan barang-barangmu! Kita harus segera angkat kaki dari sini!” seru serdadu tersebut.
Aku segera beranjak sembari mengambil tas yang tergeletak di lantai tak jauh dariku. Kubereskan kertas-kertas yang tergeletak dimeja dan satu-persatu kumasukkan ke tas kulit lusuhku tersebut. Melihat semuanya beres, serdadu tersebut menganggukkan kepalanya kearahku dan segera meninggalkanku. Aku segera mengikutinya, bergegas keluar.
“Segera berlari setelah pintu terbuka,” ujar serdadu tersebut di tengah prjalanan menuju pintu keluar, wajahnya menyiratkan ketegangan. “Berlarilah kearah NAB.2 Kami ingin kau segera mengakhiri semua kekacauan ini.”
“Bagaimana dengan kaum gerilyawan?” tanyaku.
“Mereka sudah sampai. Tinggal menunggu sinyal dari kami saja,” jawabnya.
Kami mendekati ujung lorong. Setelah melewati tikungan kecil, terlihatlah sebuah undakan yang berakhir di sebuah pintu besi yang terlihat kokoh. Serdadu tersebut berjalan dahulu dan segera memutar roda pengunci pintu. Bunyi klik terdengar dan pntu tersebut terbuka sedikit. Suara ramai diluar segera menelusup masuk dan memantul di dinding-dinding koridor.
“Ingat! Lari, begitu pintu terbuka!” seru serdadu tersebut mengingatkan.
Aku mengangguk padanya.
Secara perlahan, serdadu tersebut membuka pintu. Angin debu menyeruak masuk diiringi dengan deru suara tembakan dan ledakan. Kulindungi mataku agar tak terkena debu yang berputar-putar masuk dari celah pntu besi tersebut. Serdadu itu segera keluar dan menembakkan senjatanya kearah kanan pintu. Suasana tersebut cukup membuat kakiku kaku dan jantungku berdetak cepat.
“Lari!!” seru serdadu tersebut sembari terus menembakkan senapannya kearah musuh.
Mendengar seruannya, refleks aku berlari keluar. Bising suara pertempuran segera menghantam gendang telingaku. Aku terus berlari sembari menyipitkan mataku agar tak terganggu oleh tanha dan pasir yang beterbangan. Aku melihat bangunan kerdil sekitar dua puluh lima meter didepanku. Itulah tujuanku. Suara bising benturan peluru memaksaku memalingkan muka kekanan sejenak. Garis pertempuran terlihat disana. Beberapa bangunan telah rata dengan tanah. Ledakan-ledakan terlihat disetiap tempat. Namun semua itu tak dapat menarik pandanganku. Hanya satu hal. Yaitu sebaris debu yang berlontaran mendekat. Ciri khas tanah yang sedang tertembak. Mataku segera kembali menatap kedapn untuk mencari tempat berlindung. Tak jauh kulihat ada sebuah batu yang lumayan tinggi didepanku. Segera ku berlari kesana.
Sementara suara bising peluru yang mengejarku semakin dekat. Segera ku berguling kedepan dan berjongkok dibalik batu. Aksi yang tepat. Peluru-peluru tersebut mengenai permukaan batu yang satunya. Aku menintip sedikit untuk melihat keadaan. Terdapat empat menara yang dilengkapi senjata mesin berat. Tiga diantaranya menembaki tebing yang ada dibelakangku. Dan yang satunya, yang tegak lurus dengan batu yang kujadikan tempat bersembunyi mengarahkan moncong senapannya padaku. Aku segera menunduk dan dalam waktu tak sampai sedetik, batu tersebut bergetar diiringi suara bising ratusan peluru yang memberondongnya.
Dan disaat keputusasaan mulai menghinggapi hatiku, tiba-tiba terdengar ledakan dari arah langit. Refleks wajahku mendongak. Disana terlihat kembang api yang bersinar terang. ‘Sinyal’. Kuikutu asap luncuran yang mulai menghilang. Ekornya berakhir di pintu besi yang tadi kulewati. Serdadu tersebut berlindung dibalik pintu besi yang masih terbuka lebar sembari memegang pistol sinyal di tangan kanannya. Tak lama terdengar suara-suara roket yang diluncurkan dari puncak tebing. Wajahku bergerak otomatis kearah datangnya suara. Beberapa orang berpakaian biasa memanggul pipa besi sembari berlindung di balik bebatuan bukit tersebut. ‘Kaum Gerilyawan!’ secercah harapan kembali bersinar dalam hati. Serta-merta, kembali kulangkahkan kaki dengan cepat menuju bangunan kerdil tersebut. Silih berganti, roket-roket diluncurkan kearah para penyerang. Sepertinya senjata-senjata mesin tersebut sudah berhenti. Aku tak ada keinginan untuk melihat keempat menara tersebut. Perhatianku focus kepada bengunan tujuanku tersebut.
‘Sedikit lagi…,’ ujarku bersemangat.
Tiba-tiba… Jrassh!!!
Sebutir timah panas menembus betis kananku menyebabkan tubuhku oleng dan jatuh tengkurap. Rasa sakit mengalir dari lubang tembakan keseluruh tubuh. Aku mengerang. Tak berdaya. Aku mencoba untuk kembali berdiri, namun kembali. Sebutir lagi melesat menembus kaki kiriku, menyebabkan kakiku terasa seperti keram. Tanpa sadar kuarahkan pandanganku ke sudut garis pertempuran. Disana terlihat seorang bersenapan laras panjang sedang mengarahkan senjatanya kepadaku. Pakaiannya begitu sempurna berkamuflase dengan lingkungan sekitar. Namun tiba-tiba sebatang roket terbang menghampirinya. Sosok tersebut segera beranjak. Tak lama, tebing tempat sosok tersebut bersembunyi segera dihantam roket dengan keras. Aku hanya bisa pasrah. Sinar harapan itu sirna seketika.
“Hei! Kau tak apa-apa!?” sebuah tepukan lembut dibahu membuatku memalingkan muka kesamping.
Serdadu yang ada di pintu besi tada sudah berjongkok disana. Aku hanya tersenyum lemah kearahnya. “Bisa kau bawa aku ke mesin itu?” tanyaku.
Dia mengangguk cepat. Segera tubuhku diangkatnya dan tak lama aku sudah berada dipunggungnya. Popor senapannya menyentuh luka tembak yang berada di kaki kananku, membuatku mengerang kesakitan.
“Tahanlah!” seru serdadu tersebut. Dia segera melesat maju. Peluru-peluru berdesingan di sekitar kami. Kaum gerilyawan tak henti-hentinya menembakkan senjata-senjata yang mereka miliki untuk melindungi kami. Namun bagaimanapun persediaan amunisi mereka tak sebanding dengan musuh yang tak henti-hentinya menembakkan berbagai peluru kearah mereka.
Tak lama kami sampai di bangunan kerdil tersebut. Serdadu itu berlari kebelakang bangunan tersebut, menendang tingkap besi dengan keras, dan melemparkan senapannya kedalam. Bunyi yang dihasilkan lumayan keras di dalam sana.
“Aku akan masuk lebih dahulu untuk menangkapmu di dalam!” serunya sembari menurunkanku. Ia segera merangsek masuk. Bunyi berdebam sepatu larsnya segera terdengar. “Sekarang giliranmu!” serunya di dalam.
Aku menggeser tubuhku sedikit demi sedikit sembari menahan rasa sakit yang amat sangat. Kuhempaskan tubuhku masuk kedalam lubang ventilasi tersebut dan TAP! Serdadu tersebut berhasil menangkapku. Ia segera menurunkanku.
“Sebelumnya kita harus menahan pendarahanmu dulu!” serunya sembari membuka backpacknya dan mengeluarkan gulungan perban dan sebotol morfin. Dengan cepat ia membereskan semuanya. Rasa sakit di kedua kakiku lebih berkurang dari sebelumnya. Hanya tertinggal denyutan-denyutan kecil yang tidak begitu menyakitkan. “Engkau akan kembali kugendong agar kita bergerak lebih cepat.”
“Tak perlu,” ujarku. “Kita sudah dekat. Panggul saja aku kesana.”
Iya mengangguk cepat dan segera memanggulku. Tak lama kami sampai di ruangan yang agak besar. Di sebagian sudutnya terdapat kotak-kotak saklar pembangkit tenaga.
“Dudukkan aku di dalam benda itu,” pintaku sembari menunjuk pada sebuah sosok besar yang sedang berlutut di tengah ruangan tersebut. Ia segera melaksanakannya. Agak susah payah ia menaikkanku ke benda besar tersebut. Namun usahanya berhasil juga. Sungguh serdadu yang baik.
Segera setelah sampai cockpit, aku tak membuang-buang waktu. Segera kuoperasikan benda tersebut. Satu-persatu fungsi kunyalakan. Ia mulai bergerak dan menyala. Ruangan tersebut segera terang oleh lampu-lampu yang banyak tertempel di dindingnya. Suara khas mesin menyala sudah terdengar, ini tandanya elevator sudah bisa dioperasikan. Hitung mundur pengoperasian elevator telah dimulai. Tak lama serdadu tersebut kembali.
“Baik, apa yang harus kulakukan selanjutnya?” tanyanya.
“Pegang kendali gerak,” ujarku tenang. “Duduklah di kursi di depanku ini”
Ia segera melakukannya. Segera kufungsikan perisai berkepadatan tinggi di ruang udara disekitar benda ini. Sementara serdadu tersebut memposisikan duduknya sepas mungkin dengan alat-alat yang ada disekitarnya, aku mengoperasikan fungsi gerak.
“Pakai goggle itu,” perintahku. Segera ia menurutinya. “Tahan sedikit. Ini agak sakit.”
Tak lama, serdadu tersebut mengerang tertahan. Fungsi gerak sudah terhubung dengan system saraf kaki serdadu tersebut. Saatnya memfungsikan meriam. Elevator bergerak naik perlahan. Sinar matahari segera terasa secara perlahan sirami segala kegelapan yang temaram. Deru pertempuran segera terdengar jelas. Sementara perisai telah diaktifkan, serdadu tersebut berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti pada mikropon kerahnya. Dan tak lama, suara tembakan dari atas tebing menghilang segera. Tak ayal seluruh tembakan segera diarahkan kepada kami berdua. Namun ketebalan perisai yang melingkupi benda ini memberi perlindungan yang tak tertembus. Mereka tak henti-hentinya memuntahkan pelurunya kepada kami. Segera setelah peluru biasa tidak mempan, mereka lepaskan roket-roket kearah kami. Getaran yang dihasilkan cukup membuat benda ini bergetar sedikit tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti.
“Aktifkan penahan goncangan!” seruku.
Benda tersebut bergerak. Ia menjadi memendek sedikit.
“Penahan goncangan aktif!” seru serdadu tersebut.
“Gerakkan meriam hingga mencapai angle yang tepat!”
Angle tepat! Meriam terkunci!”
“Pelapis anti-efek ionisasi diaktifkan! Saatnya!”
Satu tombol kutekan. Dan lengan meriam yang terdiri atas delapan moncong di kanan dan kiri benda tersebut memuntahkan pelurunya secara beruntun. Getaran hebat segera terasa. Peluru-peluru tersebut berjatuhan pada garis pertempuran diiringi suara ledakan yang dahsyat sembari melepaskan neutron-neutron keudara. Sinar terang menyilaukan segera tercipta dihadapan kami. Dalam sepuluh menit, sinar terang tersebut secara perlahan menghilang. Medan tempur kembali sepi. Mayat-mayat prajurit musuh terlihat bergelimpangan dikejauhan. Senjata-senjata mesin dan kendaraan-kendaraan tempur yang baru saja datang berhenti begitu saja. Angin berhembus. Senapan-senapan jatuh dari tangan tuannya. Hewan-hewan tak ada yang keluar. Tumbuhan. Semuanya teronggok…mati….
“Yohooooo……!!!” sorak serdadu tersebut sembari mengangkat kedua tangannya keudara.
Sedangkan aku. Aku hanya diam melihat efek yang sudah dapat kuramalkan ini. Sejak pertama aku tidak ingin melihat senjata ini dalam aksinya. Namun hari ini aku tidak memiliki pilihan selain melihat segala yang kutolak ini. Puas? Aku hanya budak ambisiku sendiri. Untuk itulah aku membawa benda ini kemari. Agar dapat kujauhkan dari tempat tinggalku dan dari pandangan mataku. Sekali untuk selamanya…

1 Salah satu varian senapan serbu dengan magazine di bagian popor senapan.


2 Neutron Artillery Barrage (NAB) – Penembak Beruntun Artileri Neutron


Sajak Prajurit


Oleh : Faaiz Algar

Aku seperti angin
Datang tak diundang
Pergi tak diketahui
Menembus padang gemintang
Lalui deru pertempuran
Mendekat tak terlihat
Terasa saat tersentuh
Aku seperti halilintar
Menghajar tak tersadar
Gemuruh yang terlambat
Satu dua ledakan
Mampu kuciptakan
Seribu ketakutan
Mudah kutebarkan
Kala diri ditengah pertempuran
Diantara desing peluru
Gelegar artileri
Deru mesin perang
Satu yang kuingini darimu
Doakan mati datang kepadaku

Novel Online - Dragon Campaign



Kicau burung di pagi itu merupakan suasana keseharian pagi yang damai. Matahari cemerlang menyinari desa kecil kami. Menyusupi setiap relung pintu dan tirai. Menghangatkan setiap rumah dan kebun yang mulai menampakkan geliat kehidupan. Sementara banyak orang telah keluar dari rumahnya dan memulai kerja masing-masing, aku masih terlelap dalam pembaringan. Rasa dingin telah menahanku untuk bangkit berdiri, bergerak menapak hari. Hari ini termasuk ke dalam minggu-minggu terakhir musim gugur. Udara mulai terasa dingin menembus kulit. Hangatnya kamar yang bersanding dengan nyamannya ranjang seakan mengajakku untuk terus terbuai dalam lelap. Sinar matahari mulai menyusup kedalam kamar, memberi sedikit kehangatan yang sangat nyaman. Belum lama aku mengecap ketenangan itu, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti didorong-dorong.
“Kak, kakak!! Bangun!! Dah pagi….!!”
Aaah…., ternyata itu Evelyn, adikku satu-satunya.
Aku berpaling sejenak lalu kembali ke posisi semula. Kugerakkan tangan kananku untuk mengisyaratkan dia untuk pergi seraya berkata dengan nada malas, “Evelyn…. kau menggangguku… pergilah…”
“Tapi kak, Ibu menyuruh kakak untuk bangun,” katanya dengan nada yang lucu.
Aku sama sekali tidak menggubrisnya dan terus memberi isyarat padanya untuk segera meninggalkanku. Apa yang terjadi? Dia menarik bantalku secara kasar hingga kepalaku terjerembab cukup keras di ranjang. Aku tak mampu membayangkan bagaimana nasibku andaikata ranjangku tidak empuk. Sebelum sempat ku bertindak, ia segera melarikan diri bersama bantal yang aku gunakan.
“Evelyn…!!! Kembali…!!!” teriakku dengan nada setengah kesal.
Aku berlari keluar kamar mengejarnya. Kudapati bantalku tergelatak tak jauh dari pintu kamarku. Kulayangkan pandangan ke depan. Evelyn berada di puncak tangga melingkar. Ia julurkan lidah mengejekku kemudian berlari menuruni tangga.
Awas kau ya, kataku dalam hati dan dan segera ku mengejarnya.
“Evelyn…..!! Kemari….!!” Teriakku sembari menuruni tangga melingkar. Kutabrak pintu elastis di ujung bawah tangga tersebut yang sedikit terbuka. Ketika tiba di lantai dua, kudapati adikku sudah jauh. Ia sedang bersiap menuruni tangga besar kelantai dasar. Aku heran, sebegitu cepatnya dia berlari.
“Evelyn….!! Awas kau ya….!!!” Teriakku kembali dengan sedikit terengah-engah. Kusebrangi lantai dua itu dengan cepat hingga segera mencapai lantai dasar. Tiba-tiba aku berhenti. Ibuku sudah ada dihadapanku dengan wajah tidak senang. Heran, sejak kapan Ibu ada disana? Dibaliknya, Evelyn bersembunyi.
“Darimana saja kamu?! Jam segini baru bangun!!” omel ibuku.
“Aaa….uumm..,” aku bungkam tak bisa menjawab.
“Kamu tau ini hari apa?!”
“Emang hari apa, bu?”
“Hmm…?” Ibu mengernyitkan dahi. Segera aku tahu apa kesalahanku. “Kamu ini bagaimana? Ini hari Zentanguise. Banyak orang yang akan melancong. Kemungkinan penginapan akan penuh. Kamu ini lupa atau kenapa, Iqdar??” lanjutnya dengan nada yang lumayan turun dari sebelumnya.
Aku menunduk.
“Sudah. Cepat cuci muka dan kembali kesini. Bantu Ibu mempersiapkan segalanya,” kata Ibu menutup pembicaraan.
Aku berlalu dengan wajah menunduk. Belum jauh aku melangkah, sekilas aku mendengar suara ‘weee…!!’ dari belakang. Aku berpaling.
“Heeey, Evelyn. Jangan nakalin kakakmu lagi. Ayo ikut bantuin Ibu,” kata Ibu sembari menggendong bocah itu.
Dalam gendongan Ibuku, dia berpaling padaku. Ia julurkan lidahnya mengejekku. Awas kau ya…!!, kataku dalam hati seraya mengepalkan tangan kearahnya. Dia segera berpaling.
Aku melangkah dengan lunglai kembali ke lantai tiga. Sialnya aku. Baru bangun sudah kena marah Ibu. Awas kau Evelyn. Satu-persatu anak tangga melingkar tersebut kembali kususuri. Tangga tersebut merupakan penyatuan dengan koridor utama penghubung lantai privat dengan lantai umum. Lantai tiga tak lebih dari sebuah koridor yang pada sisi kirinya menempel pintu-pintu kamar. Lantai koridor tersebut terbuat dari kayu, sedang dindingnya terbuat dari batu kokoh.
Kuberjalan perlahan menyusuri koridor dan berhenti sejenak tuk mengambil bantalku yang tergeletak tak jauh dari pintu kamarku. Kembali kumasuki kamar hangat itu. Kutaruh bantal yang kubawa di ranjangku. Sekalian merapikannya saja. Setelah membereskan tempat tidur, kudekati jendela besar yang terlalui cahaya matahari itu. Kubuka gorden agak keras. Kubuka jendela dengan perlahan dan wuss…, angin dingin masuk dengan segera. Kuhirup udara segar dipagi hari sembari menikmati pemandangan gunung Irzinth. Seperti pagi-pagi sebelumnya, gunung Irzinth pagi ini kembali menampakkan pesonanya. Hutan yang luas terhampar, air terjun yang terlihat dikejauhan, dan yang paling utama, Puncak Cahaya yang mempesona sekaligus misterius. Tepat disamping Irzinth terdapat gunung Feter dan diantaranya terdapat lembah Leodel yang tidak kalah mempesonanya. Di lembah tersebut mengalir sebuah sungai. Lerhon namanya. Tiap pagi khususnya pagi-pagi musim dingin, Lerhon bagaikan lelehan kristal yang mengalir di lembah Leodel. Semua keindahan tersebut bersatu menjadi panorama alam yang mengagumkan. Maka tak heran kalau penginapan Ibu sangat diminati para pedagang atau petualang.
Kuberpaling kearah meja tulisku. Disana masih tergeletak sebuah buku dan sepotong kertas. Kudekati benda-benda tersebut. Kuambil selembar kertas tersebut. Syairku yang masih belum lengkap. Kubaca pelan apa yang tertulis di dalam kertas tersebut.


Tak ada lagi yang dibagi dan berbagi
Saat hati mulai membuat batasnya
Membentengi dari dunia nalar.

Membuat suasana sendiri
dan tak ada lagi yang bisa dibagi.....


Huff….., imajinasiku buntu. Kreativitasku terhenti. Entah kenapa baru kali ini ku rasakan hal begini. Seakan ada kejadian buruk yang menanti di seberang sana. Entah apa itu. Kudekati jendela kamar dengan tetap membawa kertas tersebut.
Akankah kedamaian ini hanya sementara? Akankah semua keburukan datang tanpa ada yang mampu menghentikannya? Segala pertanyaan berkumpul dibenakku. Aku merasakan firasat buruk yang masih cukup samar tuk ditelusuri.
“Iii…hh, kakak belum mandi, ya? Nanti aku bilangin ibu lho,” sebuah suara yang kudengar. Sangat khas dan sangat kukenal. Aku menoleh kebelakang. Evelyn. Ia berdiri di depan pintu kamarku yang telah terbuka. Wajahnya yang polos dan tingkah polahnya yang lucu telah mampu membuat aku, Ayah dan Ibu tertawa karenanya. Dialah adikku tersayang.
Aku tersenyum dan menunduk, menatap kertas bertuliskan syairku tersebut. Kudekati meja tulisku dan kutaruh kertas tersebut disana. Suatu saat nanti aku akan menyelesaikannya, bisikku dalam hati. Segera setelah itu aku beranjak mendekati pintu. Evelyn masih berdiri disana.
“Hei, Evelyn. Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kamu tadi diajak membantu ibu?” tanyaku padanya.
“Tadi ada seorang Paman yang datang. Dan Ibu disibukkan olehnya,” jawabnya dengan nada yang lucu.
“Seorang Paman?”
“Ya. Paman itu membawa dua pedang dipinggangnya. Gak kembar sih tapi ukurannya sama.”
Pikiranku langsung melayang pada sosok yang sering diceritakan Ayah padaku di saat usiaku masih teramat muda.
Seorang petualang hebat yang bersenjatakan dua pedang. Satu-satunya petarung yang menggabungkan seni berpedang dengan tarian. Gabungan kelembutan dan kekuatan. Pemain pedang yang sangat sulit dikalahkan oleh siapa pun.
Benarkah petarung handal tersebut ada di sini? Pikirku.
Segera ku berlari kebawah, kelantai dua. Dan sebelum sampai di pintu elastis, aku turunkan kecepatanku agar tidak terdengar kegaduhan saat membuka pintu tersebut. Dengan pelan, kubuka pintu itu. Ku berjingkat perlahan agar mereka yang di bawah tidak menyadari keberadaanku. Perlahan-lahan aku mengambil posisi tiarap dan segera merayap ke pinggir balkon untuk melihat dan mendengar lebih jelas apa yang mereka bicarakan.
Benar kata Evelyn, pria tersebut menyandang dua pedang pendek di pinggangnya. Kedua-duanya tidak tersarungkan dengan benar atau sarung pedangnya memang seperti itu? Karena hanya bagian mata pedangnya saja yang tertutupi hingga bilahnya terlihat dengan jelas. Pedang yang tersandang dipinggang kanannya berwarna biru gelap dengan desain yang aneh. Gagangnya tidak terlihat karena tertutup oleh tubuhnya, tapi yang pasti pedangnya melengkung di bagian bilahnya. Sedang pedang yang tersandang dipinggang kirinya memiliki desain yang sangat umum. Pedang dua mata yang bagian ujungnya panjang dan tajam. Namun entah kenapa aku merasa ada yang istimewa dari pedang tersebut. Aku menangkap sebangsa ukiran atau apa pun itu yang bersilangan pada permukaang pedang. Gambar tersebut terlalu samar untuk diartikan karena jaraknya terlalu jauh.
“Apa yang paman itu bicarakan dengan Ibu, ya?”
Aku kaget. Tiba-tiba Evelyn sudah ada disebelahku. Sama-sama mengambil posisi tiarap. Namun aku segera kembali menatap kedepan kearah pria tersebut.
“Paling dia hanya ingin memesan kamar,” kataku menduga-duga. Karena memang itulah jawaban paling masuk akal di hari ini.
“Tapi sepertinya mereka sangat akrab. Seperti dua orang yang telah lama tak bertemu. Apa jangan-jangan paman itu mantan kekasih Ibu?” tanyanya dengan nada polos. Aku kembali menatapnya. Dia melanjutkan, “Apa mungkin paman itu ingin meminta Ibu untuk kembali padanya? Lihat! Paman itu berwajah tampan. Dan tingkah Ibu pun juga aneh. Aku takut kalau itu benar.”
Pandanganku kembali melayang pada sosok berpostur sedang yang berdiri di depan meja penerima tamu. Wajahnya memang cukup tampan. Aku benar-benar tak menyadarinya. Dan benar lagi kata Evelyn. Perilaku Ibu aneh saat berbicara pada lelaki asing tersebut. Apakah mungkin dugaan Evelyn benar? Aku akhirnya ikut terhanyut pada imaji-imaji adikku sendiri.
Tiba-tiba Ibu melangkah mundur lumayan jauh dari meja penerima tamu. Sesaat setelah itu, dari arah pintu depan, datang seseorang membawa pedang besar dan panjang di tangan kirinya. Wajahnya tidak terlihat karena bagian bawah wajahnya tertutup kain. Sehingga yang terlihat hanya matanya. Yang pasti orang tersebut berpostur tinggi besar seperti Ayah.
Ia mendekat setengah berlari kearah pria berpedang dua tersebut. Orang pembawa pedang besar tersebut mengayunkan pedangnya hanya dengan tangan kirinya kearah lelaki tadi. Lelaki itu menyadarinya dan segera menunduk dan menendang bagian bawah meja penerima tamu hingga ia bergeser dengan mulus kebelakang dengan tetap pada posisinya. Orang berpedang besar tersebut kembali bergerak kearah lelaki tersebut dan mengayunkan senjatanya dari atas kebawah dengan kedua tangannya. Lelaki itu bergerak dengan mulus kesamping. Pedang besar itu tidak menghujam ke lantai melainkan berhenti beberapa senti dari permukaan lantai. Sepertinya orang tersebut cukup kuat mengendalikan pedang besar tersebut.
Orang itu mengayunkan pedangnya kesamping dengan menggunakan bagian punggung pedang. Lelaki tadi meluruskan kakinya kedepan dan dengan memanfaatkan lantai kayu yang agak mulus, ia bergeser kedepan sembari membaringkan tubuhnya kebelakang. Pedang raksasa itu berdesing tepat didepan wajahnya. Orang penyandang pedang besar tersebut memutar-mutarkan senjatanya dan kembali mengayunkannya. Lelaki tadi kembali berdiri dengan tegak dan karena situasi tidak memungkinkan untuk menghindar dia mencabut pedang birunya dengan cepat. Aku berpikir dia akan menangkis serangan pedang besar tersebut dengan pedang pendek dan tipis itu, suatu ide gila. Benar dugaanku, ia melakukannya. Tapi yang terjadi diluar dugaanku. Pedang pendek melengkung tersebut berhasil menahan laju pedang raksasa tersebut. Bahkan melontarkannya menjauh.
Orang penyandang pedang besar tersebut terlihat tidak terkejut dengan kejadian itu. Mungkin karena keterkejutannya tertutupi oleh kain diwajahnya itu. Namun ia benar-benar orang yang sangat kuat. Dalam setiap ayunannya, tidak sedikitpun terlihat rasa berat. Setiap ayunannya cenderung cepat, terkontrol, dan mengalir. Dan kedua pedang pendek yang dipakai lelaki tersebut pun juga sama luarbiasanya. Kecil, ringan, namun kekokohannya sangat luarbiasa. Dengan senjatanya itu, dia menyerang dan menangkis serangan lawannya.
Pertarungan itu cukup singkat. Mereka saling serang beberapa saat. Dan permainan adu pedang pun diakhiri dengan ayunan mantap dengan dua tangan dari atas kebawah oleh orang besar tersebut, yang disambut dengan silangan pedang pendek yang dengan segera menahan lajunya. Pria penyandang pedang pendek memeperpendek jarak dengan penyandang pedang besar. Kedua orang tersebut saling pandang untuk beberapa saat. Lalu, lelaki berpedang dua mengatakan sesuatu yang aku tidak bisa mendengarnya. Dan keduanya segera melepas kuncian pedang dan bergerak menjauh. Orang pemegang pedang besar tersebut melepaskan kain penutup wajahnya. Ia bersorak gembira. Tak perlu aku diberi tahu kalau dia adalah Ayahku sendiri.
“Masih seperti dua puluh tahun yang lalu…..!! “Matlatar Sang Penari Pedang!!” Luar biasa!!!!” katanya seraya mengacungkan ibu jari kirinya keatas.
“Kau juga masih sehebat yang dulu, “Rijdald Sang Pandai Besi Legendaris,”” balas orang bernama Matlatar itu.
“Jangan kau panggil aku dengan nama yang sudah lama kubuang.”
“Sejujurnya, aku selamat dari ayunan pedang raksasamu hanya karena pedang pemberianmu ini.”
Ia mengangkat pedang pendek melengkungnya yang berkilau kebiruan tertimpa cahaya mentari.
“Ah…, ya. Pedang ini,” ucapan Ayah terhenti. Dia mengangkat pedang raksasa itu hingga sejajar bahu. Dan mengarahkan ujung pedang kesebelah kanannya. Ia melakukannya dengan tangan satu!!
“Aku baru mendapatkan pedang ini dari seorang pembeli yang mengeluhkan kualitasnya. Aku merasa claymore ini sudah cukup bagus,” lanjutnya seraya membolak-balikkan pedang raksasa tersebut. Pedang tersebut memantulkan sebagian cahaya pada permukaannya. Terdapat garis hitam yang tertanam di pembatas gagang dengan bilah, memanjang hingga ujung pedang tapi tidak menyatu diujungnya. Garis hitam tersebut mengikuti bentuk pedang dan memiliki jarak sekitar dua mili dari mata pedang.
Matlatar mendekat sembari menyarungkan kedua pedang pendeknya.
Ayah kembali melanjutkan, “Pembeli itu meminta sebuah pedang berkualitas tinggi. Tidak mudah rusak walaupun dipakai bertarung dalam kurun waktu tiga setengah tahun. Aku telah membuat seperti permintaannya. Tapi mengapa ia kembali lagi dengan keluhan?”
“Aku pun juga tidak melihat adanya kerusakan bahkan goresan pada pedang ini. Hmm…..,” kata-kata Matlatar terhenti.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Aku hanya penasaran dengan garis hitam ini. Sudah pasti ini memiliki kegunaan , bukan?”
“Tentu. Kau boleh menebaknya apakah garis hitam ini.”
“Aku tidak begitu mengerti dengan dunia penempa batu mulia. Mungkin itu onyx?”
“Bukan. Ini adalah obsidian. Bahan ini kugunakan sebagai sarung pedang. Bahan ini melindungi mata pedang dengan sempurna.”
“Bagaimana mungkin bahan sekuat itu hanya kau pakai sebagai sarung pedang? Dan lagi bagaimana caranya mencabut pedang dari sarungnya yang telah menyatu dengan pedang tersebut?”
“Pertanyaan pertama memiliki jawaban yang lumayan panjang. Sedang pertanyaanmu yang kedua hanya masalah mekanisme,” Ayah berkata begitu seraya merubah pegangannya terhadap pedang besar tersebut menjadi tangan dua dan memposisikannya didepannya. Ia seperti menekan sesuatu dan dengan cepat garis obsidian tersebut menyatu dengan mata pedang. Lalu Ayah mengembalikannya seperti semula.
“Oh, dengan begitu obsidian dapat berfungsi juga sebagai mata pedang?” Tanya Matlatar.
“Yah, begitulah teorinya,” jawab Ayah sembari tersenyum.
Aku terus menatap mereka berbincang. Sangat banyak pertanyaan terkumpul dibenakku. Ingin rasanya aku segera kebawah dan ikut berbincang bersama mereka. Tapi aku takut keberadaanku diketahui Ibu. Kulihat orang bernama Matlatar itu mencabut pedang pendeknya yang memiliki ujung yang panjang dan runcing. Ia memperlihatkannya pada Ayah.
“Nama pedang ini adalah Cerberus. Ini merupakan pemberian seorang kawan yang juga pandai besi di ibukota. Dia mengatakan bahwa ini adalah karya terbaiknya,” katanya menjelaskan pedang tersebut.
“Hmmm…., desainnya cukup umum. Aku hanya melihat keseuaian namanya dengan pembatas gagang dengan bilah, tergambar kepala tiga anjing penjaga dunia bawah. Apakah hanya ini ke…..,” kata-kata Ayah terhenti ketika ia melihat bagian mata pedang tersebut. “Seperti ada celah kecil disini. Apa fungsinya?” tanyanya pada Matlatar.
Matlatar menunjukkan sesuatu pada bagian pembatas pedang tersebut. Entah apa yang dilakukan Ayah. Namun tiba-tiba dari kedua mata pedang keluar pengait baja yang desainnya cukup mengerikan. Pengait baja tersebut sangat rata dan pada puncaknya terdapat bentuk-bentuk seperti duri yang tajam namun berstyle. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya tubuh seseorang yang tertembus pedang tersebut, dan sebelum penggunanya mencabut pedang tersebut ia keluarkan kait baja, baru setelah itu menarik pedang tersebut dari tubuh korbannya.
Mengerikan!!! Satu kata yang muncul dalam benakku ketika melihat pedang tersebut.
Aku berpaling kekanan dan kudapati Evelyn sudah tidak ada disebelahku. Kudengar gelak tawa dari bawah, dan aku kembali berpaling pada Ayah dan sahabatnya tersebut. Oh..!!! Aku kaget. Evelyn sudah ada disana. Bertingkah polos dan sok lucu dihadapan sahabat Ayah tersebut. Tiba-tiba aku merasa keberadaanku disana terancam. Aku bersegera bergerak mundur dengan tetap mempertahankan posisi tiarap. Saat kakiku menyentuh dinding, aku segera berdiri perlahan-lahan dan berjingkat kembali kepintu elastis tersebut. Namun sebelum aku sempat masuk ketangga melingkar, kudengar Ayah berteriak memanggilku.
“Iqdar…!!! Kemarilah…!! Ayah tau kamu ada disana….!!!”
Oh, gawat. Aku tidak bisa berpikir jernih. Di satu sisi aku ingin memenuhi panggilan Ayah, tapi di sisi lain aku takut pada Ibu. Tidak menguntungkan andaikata aku turun kebawah menemui mereka sekarang. Maka aku segera berlari keatas melalui kembali tangga melingkar tersebut. Entah apa yang akan dikatakan Ayah nantinya, yang pasti aku tidak mau melihat wajah Ibu yang kesal dan menerima hukuman darinya.
Aku kembali kekamar dengan sedikit terengah. Kupejamkan mata sembari mencoba mengatur nafas. Oh, suatu pengalaman yang tidak biasa. Setelah nafasku kembali teratur, kuberjalan kearah kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.
Hari ini hari baik. Liroyne tersenyum padaku, ucapku dalam hati.
* * *

Novel Online - Dragon Campaign Part 1



Kicau burung di pagi itu merupakan suasana keseharian pagi yang damai. Matahari cemerlang menyinari desa kecil kami. Menyusupi setiap relung pintu dan tirai. Menghangatkan setiap rumah dan kebun yang mulai menampakkan geliat kehidupan. Sementara banyak orang telah keluar dari rumahnya dan memulai kerja masing-masing, aku masih terlelap dalam pembaringan. Rasa dingin telah menahanku untuk bangkit berdiri, bergerak menapak hari. Hari ini termasuk ke dalam minggu-minggu terakhir musim gugur. Udara mulai terasa dingin menembus kulit. Hangatnya kamar yang bersanding dengan nyamannya ranjang seakan mengajakku untuk terus terbuai dalam lelap. Sinar matahari mulai menyusup kedalam kamar, memberi sedikit kehangatan yang sangat nyaman. Belum lama aku mengecap ketenangan itu, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti didorong-dorong.
“Kak, kakak!! Bangun!! Dah pagi….!!”
Aaah…., ternyata itu Evelyn, adikku satu-satunya.
Aku berpaling sejenak lalu kembali ke posisi semula. Kugerakkan tangan kananku untuk mengisyaratkan dia untuk pergi seraya berkata dengan nada malas, “Evelyn…. kau menggangguku… pergilah…”
“Tapi kak, Ibu menyuruh kakak untuk bangun,” katanya dengan nada yang lucu.
Aku sama sekali tidak menggubrisnya dan terus memberi isyarat padanya untuk segera meninggalkanku. Apa yang terjadi? Dia menarik bantalku secara kasar hingga kepalaku terjerembab cukup keras di ranjang. Aku tak mampu membayangkan bagaimana nasibku andaikata ranjangku tidak empuk. Sebelum sempat ku bertindak, ia segera melarikan diri bersama bantal yang aku gunakan.
“Evelyn…!!! Kembali…!!!” teriakku dengan nada setengah kesal.
Aku berlari keluar kamar mengejarnya. Kudapati bantalku tergelatak tak jauh dari pintu kamarku. Kulayangkan pandangan ke depan. Evelyn berada di puncak tangga melingkar. Ia julurkan lidah mengejekku kemudian berlari menuruni tangga.
Awas kau ya, kataku dalam hati dan dan segera ku mengejarnya.
“Evelyn…..!! Kemari….!!” Teriakku sembari menuruni tangga melingkar. Kutabrak pintu elastis di ujung bawah tangga tersebut yang sedikit terbuka. Ketika tiba di lantai dua, kudapati adikku sudah jauh. Ia sedang bersiap menuruni tangga besar kelantai dasar. Aku heran, sebegitu cepatnya dia berlari.
“Evelyn….!! Awas kau ya….!!!” Teriakku kembali dengan sedikit terengah-engah. Kusebrangi lantai dua itu dengan cepat hingga segera mencapai lantai dasar. Tiba-tiba aku berhenti. Ibuku sudah ada dihadapanku dengan wajah tidak senang. Heran, sejak kapan Ibu ada disana? Dibaliknya, Evelyn bersembunyi.
“Darimana saja kamu?! Jam segini baru bangun!!” omel ibuku.
“Aaa….uumm..,” aku bungkam tak bisa menjawab.
“Kamu tau ini hari apa?!”
“Emang hari apa, bu?”
“Hmm…?” Ibu mengernyitkan dahi. Segera aku tahu apa kesalahanku. “Kamu ini bagaimana? Ini hari Zentanguise. Banyak orang yang akan melancong. Kemungkinan penginapan akan penuh. Kamu ini lupa atau kenapa, Iqdar??” lanjutnya dengan nada yang lumayan turun dari sebelumnya.
Aku menunduk.
“Sudah. Cepat cuci muka dan kembali kesini. Bantu Ibu mempersiapkan segalanya,” kata Ibu menutup pembicaraan.
Aku berlalu dengan wajah menunduk. Belum jauh aku melangkah, sekilas aku mendengar suara ‘weee…!!’ dari belakang. Aku berpaling.
“Heeey, Evelyn. Jangan nakalin kakakmu lagi. Ayo ikut bantuin Ibu,” kata Ibu sembari menggendong bocah itu.
Dalam gendongan Ibuku, dia berpaling padaku. Ia julurkan lidahnya mengejekku. Awas kau ya…!!, kataku dalam hati seraya mengepalkan tangan kearahnya. Dia segera berpaling.
Aku melangkah dengan lunglai kembali ke lantai tiga. Sialnya aku. Baru bangun sudah kena marah Ibu. Awas kau Evelyn. Satu-persatu anak tangga melingkar tersebut kembali kususuri. Tangga tersebut merupakan penyatuan dengan koridor utama penghubung lantai privat dengan lantai umum. Lantai tiga tak lebih dari sebuah koridor yang pada sisi kirinya menempel pintu-pintu kamar. Lantai koridor tersebut terbuat dari kayu, sedang dindingnya terbuat dari batu kokoh.
Kuberjalan perlahan menyusuri koridor dan berhenti sejenak tuk mengambil bantalku yang tergeletak tak jauh dari pintu kamarku. Kembali kumasuki kamar hangat itu. Kutaruh bantal yang kubawa di ranjangku. Sekalian merapikannya saja. Setelah membereskan tempat tidur, kudekati jendela besar yang terlalui cahaya matahari itu. Kubuka gorden agak keras. Kubuka jendela dengan perlahan dan wuss…, angin dingin masuk dengan segera. Kuhirup udara segar dipagi hari sembari menikmati pemandangan gunung Irzinth. Seperti pagi-pagi sebelumnya, gunung Irzinth pagi ini kembali menampakkan pesonanya. Hutan yang luas terhampar, air terjun yang terlihat dikejauhan, dan yang paling utama, Puncak Cahaya yang mempesona sekaligus misterius. Tepat disamping Irzinth terdapat gunung Feter dan diantaranya terdapat lembah Leodel yang tidak kalah mempesonanya. Di lembah tersebut mengalir sebuah sungai. Lerhon namanya. Tiap pagi khususnya pagi-pagi musim dingin, Lerhon bagaikan lelehan kristal yang mengalir di lembah Leodel. Semua keindahan tersebut bersatu menjadi panorama alam yang mengagumkan. Maka tak heran kalau penginapan Ibu sangat diminati para pedagang atau petualang.
Kuberpaling kearah meja tulisku. Disana masih tergeletak sebuah buku dan sepotong kertas. Kudekati benda-benda tersebut. Kuambil selembar kertas tersebut. Syairku yang masih belum lengkap. Kubaca pelan apa yang tertulis di dalam kertas tersebut.


Tak ada lagi yang dibagi dan berbagi
Saat hati mulai membuat batasnya
Membentengi dari dunia nalar.

Membuat suasana sendiri
dan tak ada lagi yang bisa dibagi.....


Huff….., imajinasiku buntu. Kreativitasku terhenti. Entah kenapa baru kali ini ku rasakan hal begini. Seakan ada kejadian buruk yang menanti di seberang sana. Entah apa itu. Kudekati jendela kamar dengan tetap membawa kertas tersebut.
Akankah kedamaian ini hanya sementara? Akankah semua keburukan datang tanpa ada yang mampu menghentikannya? Segala pertanyaan berkumpul dibenakku. Aku merasakan firasat buruk yang masih cukup samar tuk ditelusuri.
“Iii…hh, kakak belum mandi, ya? Nanti aku bilangin ibu lho,” sebuah suara yang kudengar. Sangat khas dan sangat kukenal. Aku menoleh kebelakang. Evelyn. Ia berdiri di depan pintu kamarku yang telah terbuka. Wajahnya yang polos dan tingkah polahnya yang lucu telah mampu membuat aku, Ayah dan Ibu tertawa karenanya. Dialah adikku tersayang.
Aku tersenyum dan menunduk, menatap kertas bertuliskan syairku tersebut. Kudekati meja tulisku dan kutaruh kertas tersebut disana. Suatu saat nanti aku akan menyelesaikannya, bisikku dalam hati. Segera setelah itu aku beranjak mendekati pintu. Evelyn masih berdiri disana.
“Hei, Evelyn. Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kamu tadi diajak membantu ibu?” tanyaku padanya.
“Tadi ada seorang Paman yang datang. Dan Ibu disibukkan olehnya,” jawabnya dengan nada yang lucu.
“Seorang Paman?”
“Ya. Paman itu membawa dua pedang dipinggangnya. Gak kembar sih tapi ukurannya sama.”
Pikiranku langsung melayang pada sosok yang sering diceritakan Ayah padaku di saat usiaku masih teramat muda.
Seorang petualang hebat yang bersenjatakan dua pedang. Satu-satunya petarung yang menggabungkan seni berpedang dengan tarian. Gabungan kelembutan dan kekuatan. Pemain pedang yang sangat sulit dikalahkan oleh siapa pun.
Benarkah petarung handal tersebut ada di sini? Pikirku.
Segera ku berlari kebawah, kelantai dua. Dan sebelum sampai di pintu elastis, aku turunkan kecepatanku agar tidak terdengar kegaduhan saat membuka pintu tersebut. Dengan pelan, kubuka pintu itu. Ku berjingkat perlahan agar mereka yang di bawah tidak menyadari keberadaanku. Perlahan-lahan aku mengambil posisi tiarap dan segera merayap ke pinggir balkon untuk melihat dan mendengar lebih jelas apa yang mereka bicarakan.
Benar kata Evelyn, pria tersebut menyandang dua pedang pendek di pinggangnya. Kedua-duanya tidak tersarungkan dengan benar atau sarung pedangnya memang seperti itu? Karena hanya bagian mata pedangnya saja yang tertutupi hingga bilahnya terlihat dengan jelas. Pedang yang tersandang dipinggang kanannya berwarna biru gelap dengan desain yang aneh. Gagangnya tidak terlihat karena tertutup oleh tubuhnya, tapi yang pasti pedangnya melengkung di bagian bilahnya. Sedang pedang yang tersandang dipinggang kirinya memiliki desain yang sangat umum. Pedang dua mata yang bagian ujungnya panjang dan tajam. Namun entah kenapa aku merasa ada yang istimewa dari pedang tersebut. Aku menangkap sebangsa ukiran atau apa pun itu yang bersilangan pada permukaang pedang. Gambar tersebut terlalu samar untuk diartikan karena jaraknya terlalu jauh.
“Apa yang paman itu bicarakan dengan Ibu, ya?”
Aku kaget. Tiba-tiba Evelyn sudah ada disebelahku. Sama-sama mengambil posisi tiarap. Namun aku segera kembali menatap kedepan kearah pria tersebut.
“Paling dia hanya ingin memesan kamar,” kataku menduga-duga. Karena memang itulah jawaban paling masuk akal di hari ini.
“Tapi sepertinya mereka sangat akrab. Seperti dua orang yang telah lama tak bertemu. Apa jangan-jangan paman itu mantan kekasih Ibu?” tanyanya dengan nada polos. Aku kembali menatapnya. Dia melanjutkan, “Apa mungkin paman itu ingin meminta Ibu untuk kembali padanya? Lihat! Paman itu berwajah tampan. Dan tingkah Ibu pun juga aneh. Aku takut kalau itu benar.”
Pandanganku kembali melayang pada sosok berpostur sedang yang berdiri di depan meja penerima tamu. Wajahnya memang cukup tampan. Aku benar-benar tak menyadarinya. Dan benar lagi kata Evelyn. Perilaku Ibu aneh saat berbicara pada lelaki asing tersebut. Apakah mungkin dugaan Evelyn benar? Aku akhirnya ikut terhanyut pada imaji-imaji adikku sendiri.
Tiba-tiba Ibu melangkah mundur lumayan jauh dari meja penerima tamu. Sesaat setelah itu, dari arah pintu depan, datang seseorang membawa pedang besar dan panjang di tangan kirinya. Wajahnya tidak terlihat karena bagian bawah wajahnya tertutup kain. Sehingga yang terlihat hanya matanya. Yang pasti orang tersebut berpostur tinggi besar seperti Ayah.
Ia mendekat setengah berlari kearah pria berpedang dua tersebut. Orang pembawa pedang besar tersebut mengayunkan pedangnya hanya dengan tangan kirinya kearah lelaki tadi. Lelaki itu menyadarinya dan segera menunduk dan menendang bagian bawah meja penerima tamu hingga ia bergeser dengan mulus kebelakang dengan tetap pada posisinya. Orang berpedang besar tersebut kembali bergerak kearah lelaki tersebut dan mengayunkan senjatanya dari atas kebawah dengan kedua tangannya. Lelaki itu bergerak dengan mulus kesamping. Pedang besar itu tidak menghujam ke lantai melainkan berhenti beberapa senti dari permukaan lantai. Sepertinya orang tersebut cukup kuat mengendalikan pedang besar tersebut.
Orang itu mengayunkan pedangnya kesamping dengan menggunakan bagian punggung pedang. Lelaki tadi meluruskan kakinya kedepan dan dengan memanfaatkan lantai kayu yang agak mulus, ia bergeser kedepan sembari membaringkan tubuhnya kebelakang. Pedang raksasa itu berdesing tepat didepan wajahnya. Orang penyandang pedang besar tersebut memutar-mutarkan senjatanya dan kembali mengayunkannya. Lelaki tadi kembali berdiri dengan tegak dan karena situasi tidak memungkinkan untuk menghindar dia mencabut pedang birunya dengan cepat. Aku berpikir dia akan menangkis serangan pedang besar tersebut dengan pedang pendek dan tipis itu, suatu ide gila. Benar dugaanku, ia melakukannya. Tapi yang terjadi diluar dugaanku. Pedang pendek melengkung tersebut berhasil menahan laju pedang raksasa tersebut. Bahkan melontarkannya menjauh.
Orang penyandang pedang besar tersebut terlihat tidak terkejut dengan kejadian itu. Mungkin karena keterkejutannya tertutupi oleh kain diwajahnya itu. Namun ia benar-benar orang yang sangat kuat. Dalam setiap ayunannya, tidak sedikitpun terlihat rasa berat. Setiap ayunannya cenderung cepat, terkontrol, dan mengalir. Dan kedua pedang pendek yang dipakai lelaki tersebut pun juga sama luarbiasanya. Kecil, ringan, namun kekokohannya sangat luarbiasa. Dengan senjatanya itu, dia menyerang dan menangkis serangan lawannya.
Pertarungan itu cukup singkat. Mereka saling serang beberapa saat. Dan permainan adu pedang pun diakhiri dengan ayunan mantap dengan dua tangan dari atas kebawah oleh orang besar tersebut, yang disambut dengan silangan pedang pendek yang dengan segera menahan lajunya. Pria penyandang pedang pendek memeperpendek jarak dengan penyandang pedang besar. Kedua orang tersebut saling pandang untuk beberapa saat. Lalu, lelaki berpedang dua mengatakan sesuatu yang aku tidak bisa mendengarnya. Dan keduanya segera melepas kuncian pedang dan bergerak menjauh. Orang pemegang pedang besar tersebut melepaskan kain penutup wajahnya. Ia bersorak gembira. Tak perlu aku diberi tahu kalau dia adalah Ayahku sendiri.
“Masih seperti dua puluh tahun yang lalu…..!! “Matlatar Sang Penari Pedang!!” Luar biasa!!!!” katanya seraya mengacungkan ibu jari kirinya keatas.
“Kau juga masih sehebat yang dulu, “Rijdald Sang Pandai Besi Legendaris,”” balas orang bernama Matlatar itu.
“Jangan kau panggil aku dengan nama yang sudah lama kubuang.”
“Sejujurnya, aku selamat dari ayunan pedang raksasamu hanya karena pedang pemberianmu ini.”
Ia mengangkat pedang pendek melengkungnya yang berkilau kebiruan tertimpa cahaya mentari.
“Ah…, ya. Pedang ini,” ucapan Ayah terhenti. Dia mengangkat pedang raksasa itu hingga sejajar bahu. Dan mengarahkan ujung pedang kesebelah kanannya. Ia melakukannya dengan tangan satu!!
“Aku baru mendapatkan pedang ini dari seorang pembeli yang mengeluhkan kualitasnya. Aku merasa claymore ini sudah cukup bagus,” lanjutnya seraya membolak-balikkan pedang raksasa tersebut. Pedang tersebut memantulkan sebagian cahaya pada permukaannya. Terdapat garis hitam yang tertanam di pembatas gagang dengan bilah, memanjang hingga ujung pedang tapi tidak menyatu diujungnya. Garis hitam tersebut mengikuti bentuk pedang dan memiliki jarak sekitar dua mili dari mata pedang.
Matlatar mendekat sembari menyarungkan kedua pedang pendeknya.
Ayah kembali melanjutkan, “Pembeli itu meminta sebuah pedang berkualitas tinggi. Tidak mudah rusak walaupun dipakai bertarung dalam kurun waktu tiga setengah tahun. Aku telah membuat seperti permintaannya. Tapi mengapa ia kembali lagi dengan keluhan?”
“Aku pun juga tidak melihat adanya kerusakan bahkan goresan pada pedang ini. Hmm…..,” kata-kata Matlatar terhenti.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Aku hanya penasaran dengan garis hitam ini. Sudah pasti ini memiliki kegunaan , bukan?”
“Tentu. Kau boleh menebaknya apakah garis hitam ini.”
“Aku tidak begitu mengerti dengan dunia penempa batu mulia. Mungkin itu onyx?”
“Bukan. Ini adalah obsidian. Bahan ini kugunakan sebagai sarung pedang. Bahan ini melindungi mata pedang dengan sempurna.”
“Bagaimana mungkin bahan sekuat itu hanya kau pakai sebagai sarung pedang? Dan lagi bagaimana caranya mencabut pedang dari sarungnya yang telah menyatu dengan pedang tersebut?”
“Pertanyaan pertama memiliki jawaban yang lumayan panjang. Sedang pertanyaanmu yang kedua hanya masalah mekanisme,” Ayah berkata begitu seraya merubah pegangannya terhadap pedang besar tersebut menjadi tangan dua dan memposisikannya didepannya. Ia seperti menekan sesuatu dan dengan cepat garis obsidian tersebut menyatu dengan mata pedang. Lalu Ayah mengembalikannya seperti semula.
“Oh, dengan begitu obsidian dapat berfungsi juga sebagai mata pedang?” Tanya Matlatar.
“Yah, begitulah teorinya,” jawab Ayah sembari tersenyum.
Aku terus menatap mereka berbincang. Sangat banyak pertanyaan terkumpul dibenakku. Ingin rasanya aku segera kebawah dan ikut berbincang bersama mereka. Tapi aku takut keberadaanku diketahui Ibu. Kulihat orang bernama Matlatar itu mencabut pedang pendeknya yang memiliki ujung yang panjang dan runcing. Ia memperlihatkannya pada Ayah.
“Nama pedang ini adalah Cerberus. Ini merupakan pemberian seorang kawan yang juga pandai besi di ibukota. Dia mengatakan bahwa ini adalah karya terbaiknya,” katanya menjelaskan pedang tersebut.
“Hmmm…., desainnya cukup umum. Aku hanya melihat keseuaian namanya dengan pembatas gagang dengan bilah, tergambar kepala tiga anjing penjaga dunia bawah. Apakah hanya ini ke…..,” kata-kata Ayah terhenti ketika ia melihat bagian mata pedang tersebut. “Seperti ada celah kecil disini. Apa fungsinya?” tanyanya pada Matlatar.
Matlatar menunjukkan sesuatu pada bagian pembatas pedang tersebut. Entah apa yang dilakukan Ayah. Namun tiba-tiba dari kedua mata pedang keluar pengait baja yang desainnya cukup mengerikan. Pengait baja tersebut sangat rata dan pada puncaknya terdapat bentuk-bentuk seperti duri yang tajam namun berstyle. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya tubuh seseorang yang tertembus pedang tersebut, dan sebelum penggunanya mencabut pedang tersebut ia keluarkan kait baja, baru setelah itu menarik pedang tersebut dari tubuh korbannya.
Mengerikan!!! Satu kata yang muncul dalam benakku ketika melihat pedang tersebut.
Aku berpaling kekanan dan kudapati Evelyn sudah tidak ada disebelahku. Kudengar gelak tawa dari bawah, dan aku kembali berpaling pada Ayah dan sahabatnya tersebut. Oh..!!! Aku kaget. Evelyn sudah ada disana. Bertingkah polos dan sok lucu dihadapan sahabat Ayah tersebut. Tiba-tiba aku merasa keberadaanku disana terancam. Aku bersegera bergerak mundur dengan tetap mempertahankan posisi tiarap. Saat kakiku menyentuh dinding, aku segera berdiri perlahan-lahan dan berjingkat kembali kepintu elastis tersebut. Namun sebelum aku sempat masuk ketangga melingkar, kudengar Ayah berteriak memanggilku.
“Iqdar…!!! Kemarilah…!! Ayah tau kamu ada disana….!!!”
Oh, gawat. Aku tidak bisa berpikir jernih. Di satu sisi aku ingin memenuhi panggilan Ayah, tapi di sisi lain aku takut pada Ibu. Tidak menguntungkan andaikata aku turun kebawah menemui mereka sekarang. Maka aku segera berlari keatas melalui kembali tangga melingkar tersebut. Entah apa yang akan dikatakan Ayah nantinya, yang pasti aku tidak mau melihat wajah Ibu yang kesal dan menerima hukuman darinya.
Aku kembali kekamar dengan sedikit terengah. Kupejamkan mata sembari mencoba mengatur nafas. Oh, suatu pengalaman yang tidak biasa. Setelah nafasku kembali teratur, kuberjalan kearah kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.
Hari ini hari baik. Liroyne tersenyum padaku, ucapku dalam hati.
* * *